Per Desember 2025, Kemajuan Pembangunan Fase 2A Lampaui Target Akhir Tahun
Kemajuan pembangunan konstruksi fase 2A per Desember 2025 melampaui target akhir tahun 2025. Pada akhir Desember lalu, perkembangannya telah mencapai 55,89 persen dari target akhir tahun 2025 yang ditetapkan, yaitu 53,29 persen. Capaian melampaui target juga ditorehkan oleh setiap paket kontrak sipil.
Pada paket kontrak CP 201, kemajuannya mencapai 91,16% dari target 89,69 persen dengan sejumlah pekerjaan utama di Stasiun Thamrin seperti pekerjaan pemasangan SSP dan relokasi utilitas pada entre 1, pemasangan traffic decking pada entre 3, pemasangan rebar untuk double slab dan pekerjaan arsitektural finishing dinding pada combine building entre 4 CTVT.
Selain itu, pengecoran tangga & pekerjaan backfill entre 5, penggalian entre 6, pekerjaan backfill entre 7 dan 8, instalasi homogeneous tile, dinding ACP, dan metal ceiling pada level concourse dan platform, pekerjaan fabrikasi steel structure entre 7 dan 8, serta pekerjaan instalasi eskalator 9, perpipaan, ducting, cable tray, dan station fan, serta persiapan instalasi elevator 6 dan 7 masih terus dilaksanakan.
Di Stasiun Monas, sejumlah pekerjaan seperti reinstatement entre 1 Jalan Museum, pengecoran dinding entre 2 Jalan Silang Barat Daya Monas, pekerjaan instalasi dinding AAC dan panel ACP, homogeneous tile, metal ceiling pada koridor entre 2, pekerjaan fabrikasi steel structure entre 2, coring dwall untuk TBM Docking di shaft selatan Stasiun Harmoni, serta pekerjaan instalasi travelator, eskalator & elevator entre 1, perpipaan, ducting, serta partial acceptance test untuk perlengkapan MEP masih terus dilaksanakan.
Melampaui target juga terjadi di CP 202. Per 25 Desember 2025, paket kontrak 202 telah mencapai 61,56% dari target 57,81 persen. Di Stasiun Harmoni, pekerjaan utama seperti pemotongan kingpost dan pengecoran kolom di platform level (B2F), roof slab waterproofing, instalasi OTE Duct level platform (B2F), instalasi Mock-up MEP (Plumbing & Ducting) di level B1F, serta reinstatement jalur BRT Transjakarta di area area lintas bawah kanal (canal underpass) selatan masih terus dilaksanakan. Di Stasiun Sawah Besar dan Mangga Besar, pekerjaaan pemotongan king post, konstruksi kolom stasiun, slab di receiving shaft, RC deck entre 1 dan 2, serta secant bore pile entre 3, 4, dan 5, ekskavasi deck sementara, serta OTW Duct di level B2 juga terus dilakukan. Selain itu, pekerjaan pembangunan terowongan telah terus dikebut. CP202 merupakan terobosan industri konstruksi sipil bawah tanah karena pembangunan stasiun dan terowongan kereta modern perkotaan bawah tanah pertama di Indonesia.
Sedangkan pada paket kontrak 203, per 25 Desember 2025 telah mencapai 80,93 persen dari target 79,82 persen. Di area konstruksi Stasiun Kota, pekerjaan seperti mekanikal, elektrikal, dan perpipaan serta arsitektural masih terus dilaksanakan. Di Stasiun Glodok, selain pekerjaan arsitektural, tim konstruksi juga sedang bersiap kedatangan (breakthrough) mesin bor terowongan dari Stasiun Mangga Besar.
Paket kontrak nonsipil, yaitu CP205 sistem perkeretaapian dan rel, juga berhasil melampaui target, yakni 31,48 persen dari target 24,21 persen. Tim konstruksi telah memulai pekerjaan pengecoran rel di terowongan segmen Bundaran HI—Thamrin dan pengelasan rel telah mencapai 46 persen untuk kebutuhan segmen tersebut. Paket CP206 sedang dalam persiapan untuk commencement pada 6 Januari 2026 dan persiapan rencana kick off meeting setelahnya serta CP 207 sedang dalam proses pengumpulan proposal calon kontraktor dan persiapan proses evaluasi tender.
Fase 2A MRT Jakarta akan menghubungkan Stasiun Bundaran HI hingga Kota sepanjang sekitar 5,8 kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Fase 2A tersebut dibagi menjadi dua segmen, yaitu segmen satu Bundaran HI—Harmoni yang ditargetkan selesai pada 2027, dan segmen dua Harmoni—Kota yang ditargetkan selesai pada 2029. Fase 2A MRT Jakarta dibangun dengan biaya sekitar Rp25,3 triliun melalui dana pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang. Sedangkan Fase 2B MRT Jakarta yang rencananya melanjutkan dari Kota sampai dengan Depo Ancol Barat masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).
Berbeda dengan fase 1, fase 2A dibangun sekaligus dengan mengembangkan kawasan stasiun dengan konsep kawasan berorientasi transit (transit-oriented development). Pembangunan dengan konsep ini tidak hanya menyiapkan infrastruktur stasiun MRT Jakarta saja, namun juga kawasan sebagai paduan antara fungsi transit dan manusia, kegiatan, bangunan, dan ruang publik yang akan mengoptimalkan akses terhadap transportasi publik sehingga dapat menunjang daya angkut penumpang.