Skip to main content

PT MRT Jakarta (Perseroda) Targetkan 65,03 Persen Pembangunan Fase 2A pada 2026

Image
las rel CP205

PT MRT Jakarta (Perseroda) menargetkan 65 persen pekerjaan fase 2A terselesaikan pada 2026. Dari target keseluruhan tersebut, terdapat target untuk setiap paket kontrak, yaitu CP 201 Thamrin--Monas dengan 95 persen penyelesaian pekerjaan, CP202 Harmoni—Sawah Besar—Mangga Besar dengan 70 persen penyelesaian pekerjaan, dan CP 203 Glodok—Kota dengan target penyelesaian 89,50 persen pekerjaan. Di luar pekerjaan sipil tersebut, terdapat paket kontrak CP205 railway systems dan track work menargetkan 55,00 persen penyelesaian pekerjaan, CP206 rolling stock dengan 2,26 persen, dan CP207 automatic face collection dengan 16,29 persen. PT MRT Jakarta (Perseroda) optimistis mencapai target tersebut.

Per Desember 2025 lalu, pembangunan fase 2A MRT Lin Utara Selatan melampaui target 53,29 persen, yaitu mencapai 58,89 persen. Sejumlah capaian konstruksi berhasil ditorehkan sepanjang 2025 seperti keberhasilan membangun stasiun dan terowongan kereta bawah tanah bertingkat empat pertama di Indonesia. Stasiun dan terowongan yang terletak di Sawah Besar dan Mangga Besar ini berada hingga 28 meter di bawah permukaan tanah. Dibangun oleh dua mesin bor terowongan yang bekerja sejak Mei 2025 hingga Oktober 2025.

Fase 2A MRT Jakarta yang dicanangkan pada 2019, rencananya akan menghubungkan Stasiun Bundaran HI hingga Kota sepanjang sekitar 5,8 kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Fase 2A tersebut dibagi menjadi dua segmen, yaitu segmen satu Bundaran HI—Monas yang ditargetkan selesai pada 2027, dan segmen dua hingga Kota yang ditargetkan selesai pada 2029.

Fase 2A MRT Jakarta dibangun melalui dana pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang. Sedangkan Fase 2B MRT Jakarta yang rencananya melanjutkan dari Kota sampai dengan Depo Ancol Barat masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).

Berbeda dengan fase 1, fase 2A dibangun sekaligus dengan mengembangkan kawasan stasiun dengan konsep kawasan berorientasi transit (transit-oriented development). Pembangunan dengan konsep ini tidak hanya menyiapkan infrastruktur stasiun MRT Jakarta saja, namun juga kawasan sebagai paduan antara fungsi transit dan manusia, kegiatan, bangunan, dan ruang publik yang akan mengoptimalkan akses terhadap transportasi publik sehingga dapat menunjang daya angkut penumpang.