Skip to main content

Per 25 Februari, Pembangunan Fase 2A CP 201 Capai 71,69 Persen

Image
TBM 2 203
Pekerja sedang merakit mesin bor terowongan 2 di sisi selatan Stasiun Glodok. Foto oleh PT MRT Jakarta (Perseroda)/Irwan Citrajaya. 

Pekerjaan pembangunan CP 201 (Stasiun Thamrin dan Monas) fase 2A MRT Jakarta berjalan sesuai jadwal. Per 25 Februari 2024, perkembangan pembangunan telah mencapai 71,69 persen. Saat ini, pembangunan Stasiun Monas telah masuk ke tahap pekerjaan box jacking passageway entrance 1 Jalan Museum, penggalian entrance 2 stage 2 Jalan Silang Barat Daya, pengecoran dinding suar penyejuk (cooling tower), piling untuk arrival shaft entrance 1 Jalan Museum, pekerjaan dinding dan ACP, langit-langit (ceiling), rangka penggantung fire shutter, dan lantai homogeneous tiles. Selain itu, sedang dilakukan pula pekerjaan toilet meliputi lantai, dinding, dan langit-langit (ceiling). Pekerjaan instalasi sistem HVCA, suplai air dan drainase, pemadam kebakaran, dan elektrikal, serta pengiriman peralatan pendukung utama seperti elevator dan eskalator masih terus dilakukan.

Sedangkan di Stasiun Thamrin, pekerjaan yang sedang dilakukan meliputi pekerjaan pengecoran lantai dasar (base slab) dan kolom/tiang, instalasi OTE Duct, pondasi entrance empat, suar penyejuk (cooling tower), dan suar ventilasi (ventilation tower), pemotongan kingpost, penggalian untuk area parkir kereta (stabling yard), dan instalasi dinding AAC dan pipa drainase di bawah peron.

Sedangkan untuk CP 202 (Stasiun Harmoni—Sawah Besar—Mangga Besar) setelah resmi dimulai pada 25 Juni 2022, per 25 Februari 2024 telah mencapai 27,11 persen dengan cakupan pekerjaan meliputi pekerjaan D-Wall, fabirkasi pembesian D-Wall, dan pekerjaan kolom penahan sementara penopang lantai dan atap stasiun selama proses ekskavasi (kingpost).

Image
D Wall 203
Pekerja mengawasi proses pembuatan D-Wall di CP 202. Foto oleh PT MRT Jakarta (Perseroda)/Irwan Citrajaya. 

Pascapenandatanganan paket kontrak (contract package) CP 203 (Stasiun Glodok dan Kota) pada 20 April 2021, pekerjaannya pun sudah terus berlanjut dan berjalan sesuai jadwal. Per 25 Februari 2024, perkembangannya sudah mencapai 47,54 persen dengan pekerjaan di Stasiun Glodok meliputi pekerjaan persiapan penggalian oleh mesin bor terowongan (tunnel boring machine/TBM) 1 di utara stasiun, perakitan TBM 2 di selatan stasiun, pengiriman segmen terowongan, pekerjaan dinding peron (platform), dan instalasi mock up MEP.

Sedangkan di Stasiun Kota, penggalian tanah dan struktur untuk lower concourse slab serta pekerjaan penggalian tanah untuk lantai dasar (base slab).

Sedangkan pengadaan CP 205 railway systems and trackwork (sistem perkeretaapian dan rel) yang meliputi Bundaran HI—Kota dilakukan dengan sistem international competitive bidding. Pada 30 November 2023, tiga perusahaan kontraktor telah memasukkan dokumen proposal dan saat ini sedang dilakukan evaluasi teknis serta finansial. CP 206 rolling stock (ratangga) telah diperoleh conditional JICA concurrence untuk pelaksanaan tender. Target call for tender pada Q4 2023. Sedangkan CP 207 automatic fare collection system (sistem pembayaran), sedang dalam tahap penyusunan dokumen tender dan penyelesaian aspek kontraktual maupun teknis. Call for tender telah dilaksanakan pada November 2023. Secara umum, perkembangan pembangunan fase 2A telah mencapai 32,06 persen. 

Image
Blok Taktil 201
Pemasangan blok taktil oleh salah satu pekerja di Stasiun Monas. Foto oleh PT MRT Jakarta (Perseroda)/Irwan Citrajaya. 

Fase 2A MRT Jakarta akan menghubungkan Stasiun Bundaran HI hingga Kota sepanjang sekitar 5,8 kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Fase 2A tersebut dibagi menjadi dua segmen, yaitu segmen satu Bundaran HI—Harmoni yang ditargetkan selesai pada 2027, dan segmen dua Harmoni—Kota yang ditargetkan selesai pada 2029. Fase 2B MRT Jakarta yang rencananya melanjutkan dari Kota sampai dengan Depo Ancol Barat masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study). Fase 2A MRT Jakarta dibangun dengan biaya sekitar Rp25,3 triliun melalui dana pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang. 

Berbeda dengan fase 1, fase 2A dibangun sekaligus dengan mengembangkan kawasan stasiun dengan konsep kawasan berorientasi transit (transit oriented development). Pembangunan dengan konsep ini tidak hanya menyiapkan infrastruktur stasiun MRT Jakarta saja, namun juga kawasan sebagai paduan antara fungsi transit dan manusia, kegiatan, bangunan, dan ruang publik yang akan mengoptimalkan akses terhadap transportasi publik sehingga dapat menunjang daya angkut penumpang.